Minggu, 27 JULI 2025 • 09:46 WIB

Khazanah Intelektual Banjar: Tiga Pilar Peradaban Kalimantan Selatan

Author

Syekh Asyad Al Banjari (Pinteres/Rain Pool)

Kalimantan Selatan menyimpan warisan intelektual yang mengagumkan, dipelopori tokoh-tokoh yang karyanya melewati batas zaman. Berikut tiga pilar utamanya:

1. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812): Mercusuar Islam Nusantara

Datu Kalampayan — demikian ia dijuluki — menghabiskan 35 tahun menuntut ilmu di Makkah dan Madinah atas dukungan Sultan Banjar. Sepulangnya (1773), ia mendirikan pusat pendidikan "Dalam Pagar" di Martapura, yang menjadi cikal bakal sistem pesantren berbasis sorogan (pengajian individual). Tak hanya itu, ia pun merancang sistem irigasi untuk masyarakat!  

Karyanya yang monumental, Sabilal Muhtadin, ditulis dalam bahasa Melayu-Banjar, menjadi rujukan fiqih mazhab Syafi'i di Asia Tenggara. Kitab ini bahkan dicetak di Mesir dan dipakai di Filipina Selatan. Pemikirannya mencakup:

  • Teologi Asy’ariyah (tauhid sifat 20)
  • Fiqih sufistik (penyatuan hukum dan tasawuf)
  • Model fatwa untuk masalah kontemporer .

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Budaya Banjar Melalui Podcast Lokal yang Kaya Konten

Ia juga membangun jaringan ulama banjar melalui 14 anak laki-lakinya, seperti Qadhi Abu Su’ud dan Syekh Syahabuddin, yang menjadi mufti dan qadhi. Tradisi haulnya hingga kini dihadiri ribuan orang dari berbagai negara .

2. Jamal: Penjaga Sastra Banjar Kontemporer

Sastrawan modern ini menghidupkan kembali khazanah lokal melalui drama bersambung "Asa Takulum Bara" (Lambu Mangkurat)—sebuah koreksi atas pelafalan tradisi "Lambu" yang kerap disalahtafsirkan sebagai "Lambung". Karyanya seperti "Pambatangan" dan "Naga Runting" menyelami mitologi Banjar, memperkuat identitas bahasa daerah.  

Ia aktif menjadi delegasi di forum sastra nasional dan internasional, termasuk Temu Alumni Mastera di Bogor (2022). Dedikasinya mengantarkannya pada penghargaan Yayasan Rancage—pengakuan atas upayanya melestarikan sastra daerah.

3. A.A. Hamidhan (1909-1997): Jurnalis Pejuang dari Rantau

Anang Abdul Hamidhan adalah perintis pers Kalimantan. Ia mendirikan surat kabar *Soeara Kalimantan* (1930)—corong pergerakan anti-kolonial. Akibat tulisan kritisnya, Belanda memenjarakannya di Cipinang dan Banjarmasin.  

Peran heroiknya terukir saat ia menyebarkan berita Proklamasi 1945 ke seluruh Borneo, ketika informasi belum mudah diakses. Melalui koran Kalimantan Raya dan Borneo Shimbun, ia menyulut api nasionalisme melawan

Baca juga: Wisata Religi di Martapura, Ziarah Spiritual ke Makam Ulama & Masjid Bersejarah

penjajah.

Tokoh Kontribusi Abadi Pengaruh Global
Syekh Arsyad Jaringan pendidikan & kitab fiqih Rujukan di Mesir & Asia Tenggara
Jamal Revitalisasi sastra Banjar Forum sastra internasional
A.A. Hamidhan Fondasi pers nasionalistik Penyebaran proklamasi di Borneo

Ketiganya membuktikan bahwa intelektual Banjar bukanlah pemain lokal, melainkan aktor yang karya dan perjuangannya menyentuh skala global. Syekh Arsyad kini sedang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional ke-5 dari Kalsel, didukung 139 rekomendasi dan 170 kajian akademis . Sementara Jamal dan Hamidhan menunjukkan bahwa bahasa dan jurnalisme adalah senjata budaya yang tetap relevan.

"Tanpa gelar pahlawan sekalipun, Datu Kalampayan telah menghiasi bumi Nusantara dengan keilmuan dan gagasannya" — Gubernur Kalsel Sahbirin Noor .

Warisan mereka mengajarkan satu hal, yaitu khazanah lokal yang terdokumentasi tak akan lekang menjadi kompas peradaban. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Alif.id, Kompas.com, Ruang Intelektual

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU