Operasional keberangkatan jemaah haji di Embarkasi Banjarmasin kini tengah memasuki fase krusial dengan intensitas yang semakin meningkat. Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Banjarmasin, Dr. H. Edy Khairani, memastikan bahwa seluruh skema pelayanan pada kloter-kloter awal, yakni BDJ 01 dan BDJ 02, telah terealisasi dengan presisi sesuai prosedur tetap (protap) yang berlaku.
Kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia di asrama haji menjadi faktor penentu dalam menciptakan suasana pemberangkatan yang kondusif. Evaluasi terhadap dua kloter pertama menunjukkan bahwa integrasi antarlini petugas berhasil meminimalisir kendala administratif maupun teknis di lapangan.
Keberhasilan Protap pada Kloter BDJ 01 dan BDJ 02
Hingga saat ini, sebanyak 719 jemaah beserta petugas pendamping dari Embarkasi Banjarmasin telah resmi diberangkatkan menuju Madinah Al Munawwarah. Keberangkatan kloter BDJ 02 yang didominasi jemaah asal Kabupaten Banjar menjadi bukti nyata efektivitas koordinasi lintas sektor. Dr. H. Edy Khairani menekankan bahwa ketertiban yang tercipta mulai dari proses penerimaan jemaah di asrama hingga pelepasan menuju bandara adalah buah dari kerja keras kolektif.
Keberhasilan ini menjadi standar bagi kloter-kloter berikutnya, termasuk BDJ 03 asal Kabupaten Tabalong yang dijadwalkan memasuki asrama pada akhir pekan ini. Konsistensi dalam menerapkan protap diharapkan mampu menjaga ritme kerja petugas agar tetap optimal hingga seluruh jemaah asal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah tuntas diberangkatkan.
Fokus Utama: Kebugaran Fisik dan Prioritas Ibadah
Di balik kelancaran logistik, PPIH Embarkasi Banjarmasin menaruh perhatian besar pada aspek kesehatan jemaah. Mengingat cuaca dan dinamika di Tanah Suci yang menuntut energi besar, jemaah diingatkan untuk melakukan manajemen aktivitas secara bijak. Pesan ini bukan sekadar imbauan rutin, melainkan strategi agar jemaah tidak mengalami kelelahan ekstrem sebelum mencapai puncak haji.
Stamina yang kuat adalah modal utama untuk menjalankan rukun haji secara sempurna. Oleh karena itu, jemaah diminta untuk tidak terlalu memforsir tenaga pada kegiatan-kegiatan di luar rangkaian wajib, terutama saat baru tiba di Madinah maupun Makkah.
Perlindungan Khusus bagi Jemaah Lansia dan Disabilitas
Salah satu kebijakan yang ditekankan secara tegas oleh Ketua PPIH adalah perlindungan bagi jemaah kategori lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, serta jemaah dengan risiko tinggi (risti). Kelompok ini mendapatkan atensi khusus agar mereka tetap dapat menjalankan ibadah tanpa membahayakan keselamatan jiwa.
Dr. H. Edy Khairani berpesan agar kelompok jemaah ini lebih fokus pada rukun dan wajib haji saja. Beliau menyarankan agar jemaah lansia dan risti tidak memaksakan diri mengejar ibadah-ibadah sunnah yang bersifat fisik berat. Fokus pada kualitas ibadah inti jauh lebih utama dibandingkan kuantitas yang berisiko mengganggu kesehatan.
Keselamatan dan kesehatan jemaah tetap menjadi prioritas tertinggi dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Dengan dukungan penuh dari petugas kesehatan dan pembimbing ibadah, diharapkan seluruh jemaah Embarkasi Banjarmasin dapat meraih predikat haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan kondisi sehat walafiat. Sinergi antara kepatuhan jemaah dan kesiapsiagaan petugas adalah kunci suksesnya perjalanan spiritual ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Https://kalsel.haji.go.id/