Sabtu, 29 NOVEMBER 2025 • 14:45 WIB

Mengenal Bekantan, Si Hidung Panjang Ikonik dari Kalimantan Selatan

Author

Bekantan (@hendriwlsss)

Bekantan, atau dikenal secara ilmiah sebagai Nasalis larvatus, adalah salah satu primata paling unik dan menawan di dunia. Dengan ciri khas hidung panjangnya yang menonjol, terutama pada pejantan dewasa, hewan ini menjadi fauna identitas resmi Provinsi Kalimantan Selatan dan ikon konservasi yang penting bagi Pulau Kalimantan. 

Mengenal Sang Hidung Panjang

Bekantan memiliki beberapa nama lokal, seperti Kera Belanda atau Monyet Belanda, sebuah julukan yang mungkin muncul karena kemiripan hidung panjangnya dengan hidung orang Eropa di masa lalu, serta perutnya yang agak buncit. Di Indonesia, Malaysia, dan Brunei, primata ini hanya ditemukan di pulau Kalimantan (Borneo), menjadikannya spesies endemik yang keberadaannya sangat bergantung pada kelestarian ekosistem pulau tersebut.

Karakteristik Fisik yang Khas

Bekantan memiliki penampilan yang sangat khas yang membedakannya dari jenis monyet lain:

● Hidung Besar dan Panjang: Ini adalah ciri paling mencolok. Hidung ini sangat panjang dan menggantung pada bekantan jantan dewasa, diperkirakan berfungsi sebagai resonansi suara saat memanggil betina atau menunjukkan dominasi. Betina juga memiliki hidung yang menonjol, namun bentuknya lebih kecil dan mancung ke atas.

● Warna Rambut: Tubuhnya diselimuti bulu berwarna coklat kemerahan hingga coklat muda di bagian punggung, dengan warna abu-abu atau putih di bagian perut, kaki, dan ekor.

● Perut Buncit: Bekantan memiliki perut besar (buncit) karena memiliki sistem pencernaan khusus untuk memproses makanan utamanya, yaitu daun-daunan.

Terdapat dimorfisme seksual yang jelas; bekantan jantan berukuran jauh lebih besar daripada betina. Panjang tubuh jantan dapat mencapai 75 cm dengan berat hingga 24 kg, sementara betina berukuran sekitar 60 cm dengan berat sekitar 12 kg. Uniknya, bekantan juga dikenal sebagai perenang yang mahir dan memiliki selaput tipis di antara jari-jari kakinya yang membantu pergerakan di air. Mereka bahkan bisa menyelam dalam waktu singkat dengan menutup hidungnya menggunakan semacam katup.

Habitat dan Pola Hidup

Sebagai primata yang sangat bergantung pada ekosistem air, habitat utama bekantan adalah hutan bakau (mangrove), hutan rawa gambut, dan hutan riparian di sepanjang tepi sungai. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di atas pohon (arboreal), namun mereka sering turun ke air atau tanah untuk mencari makan atau melintasi sungai.

Bekantan adalah hewan folivora-frugivora, yang berarti mereka primarily memakan daun dan buah-buahan. Mereka sangat menyukai daun muda atau pucuk karena kandungan proteinnya yang lebih tinggi, serta buah-buahan yang masih mentah. Kebiasaan makan ini membuat mereka sangat sensitif terhadap perubahan vegetasi di habitatnya.

Mereka hidup dalam kelompok sosial yang terstruktur, biasanya terdiri dari satu pejantan dominan (one-male group), beberapa betina dewasa, dan anak-anak mereka. Jumlah individu dalam satu kelompok bisa berkisar antara 10 hingga 30 ekor. Pejantan muda yang belum memiliki kelompok sendiri sering membentuk kelompok bujangan terpisah. Bekantan tidak memiliki teritorial yang ketat dan sering berbagi pohon tidur (tempat mereka bermalam) di sepanjang sungai.

Status Konservasi dan Ancaman

Sayangnya, keberadaan Bekantan di alam liar berada di ambang bahaya. Berdasarkan daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature), Bekantan diklasifikasikan sebagai satwa Terancam Punah (Endangered). Spesies ini juga dilindungi secara ketat di Indonesia dan ditempatkan dalam CITES Apendiks I, yang berarti dilarang dalam perdagangan internasional.

Populasi Bekantan mengalami penurunan drastis selama beberapa dekade terakhir, dengan perkiraan jumlah di alam liar hanya tersisa puluhan ribu individu. Ancaman utama yang mereka hadapi meliputi:

1. Kerusakan dan Hilangnya Habitat: Konversi hutan mangrove, rawa, dan hutan riparian menjadi lahan pertanian, perkebunan (terutama sawit dan karet), tambak ikan, dan permukiman adalah ancaman terbesar. Bekantan sangat sensitif terhadap kerusakan ini karena sangat bergantung pada ekosistem berbasis air.

2. Perburuan Liar: Meskipun dilindungi, perburuan liar masih terjadi, baik untuk diambil dagingnya maupun untuk perdagangan satwa peliharaan ilegal.

3. Kebakaran Hutan: Kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan sering kali menghancurkan habitat alami bekantan dan sumber makanan mereka.

Upaya Konservasi

Untuk menjaga kelestarian primata unik ini, berbagai upaya konservasi telah dilakukan, terutama di Kalimantan Selatan, yang menjadikannya maskot. Kawasan konservasi seperti Suaka Margasatwa Pulau Kaget dan Suaka Margasatwa Kuala Lupak di Kalimantan Selatan menjadi rumah penting bagi populasi Bekantan yang tersisa.

Upaya ini melibatkan:

● Perlindungan Habitat: Menjaga keutuhan hutan mangrove dan riparian dari konversi dan perusakan.

● Penelitian dan Pemantauan: Melakukan studi populasi dan perilaku untuk mengembangkan strategi konservasi yang lebih efektif.

● Pendidikan dan Ekowisata: Mengedukasi masyarakat lokal dan wisatawan melalui kegiatan ekowisata yang bertanggung jawab, seperti di Kampung Wisata Bekantan, untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian.

● Penegakan Hukum: Tindakan tegas terhadap pelaku perusakan habitat dan perburuan liar.

Bekantan adalah permata sejati dari keanekaragaman hayati Kalimantan. Perlindungan Bekantan adalah cerminan dari komitmen kita untuk melestarikan ekosistem lahan basah yang kaya dan rapuh di pulau ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU