Sabtu, 29 NOVEMBER 2025 • 13:52 WIB

Harmoni di Atas Air: Kisah Abadi Pasar Terapung Lokbaintan dan Muara Kuin

Author

Pasar Apung Banjarmasin (@yangunayasa)

Kalimantan Selatan, tanah yang dijuluki sebagai "Bumi Lambung Mangkurat," tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memegang teguh warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Salah satu ikon paling khas dan memikat dari provinsi ini adalah Pasar Terapung, sebuah tradisi jual beli yang telah berlangsung selama ratusan tahun di atas sungai. Dari dua lokasi yang paling terkenal, Pasar Terapung Lokbaintan dan Pasar Terapung Muara Kuin menjadi saksi bisu denyut nadi kehidupan masyarakat Banjar yang menyatu erat dengan sungai. 

Akar Sejarah dan Lokasi yang Berbeda

Pasar Terapung bukanlah sekadar pasar, melainkan sebuah manifestasi sejarah dan kearifan lokal yang berawal sejak era Kesultanan Banjar. Aktivitas niaga ini muncul karena minimnya infrastruktur jalan darat di masa lalu, menjadikan sungai sebagai urat nadi utama mobilitas dan perdagangan.

Pasar Terapung Muara Kuin, yang terletak di Muara Sungai Kuin dan Sungai Barito di Banjarmasin Utara, seringkali disebut sebagai pasar terapung pertama dan tertua, konon sudah ada sejak sekitar 400 tahun lalu. Lokasinya yang strategis di muara sungai besar membuatnya menjadi pusat pertemuan antara hasil bumi dari pedalaman dan komoditas dari pesisir. Sayangnya, seiring berkembangnya Kota Banjarmasin dan akses jalan darat yang semakin mudah, geliat perdagangan di Muara Kuin kian surut dan cenderung bertumpu pada kunjungan wisatawan.

Di sisi lain, Pasar Terapung Lokbaintan (atau sering disebut Pasar Terapung Sungai Martapura), yang berlokasi di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, masih menunjukkan aktivitas jual beli yang lebih kental dan murni dari pedagang lokal. Lokbaintan berada di anak Sungai Martapura dan posisinya yang lebih dekat dengan sentra hasil pertanian dan perkebunan membuat pasokan dagangan di sini relatif lebih segar dan beragam. Meskipun keduanya memiliki konsep yang sama, saat ini Lokbaintan lebih dikenal sebagai representasi otentik pasar terapung Banjar yang masih aktif.

Eksotisme Transaksi di Atas Jukung

Waktu terbaik untuk mengunjungi kedua pasar ini adalah pada pagi hari buta, sekitar pukul 06.00 hingga 09.00 WITA. Inilah saat matahari mulai terbit dan ratusan jukung (perahu kayu tradisional khas Banjar) mulai berkumpul. Jukung-jukung kecil ini, didominasi oleh para pedagang perempuan yang mengenakan tanggui (topi lebar dari daun rumbia), bergerak lincah di atas permukaan air.

Keunikan pasar terapung terletak pada proses transaksinya yang dilakukan langsung dari perahu ke perahu. Tidak ada kios permanen; sungai adalah lapak, dan jukung adalah etalase berjalan. Para pedagang menjajakan berbagai hasil bumi, mulai dari sayur-mayur segar, buah-buahan seperti pisang dan rambutan, aneka kue tradisional (wadai Banjar), hingga ikan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Di Lokbaintan, Anda masih bisa menyaksikan praktik jual beli tradisional yang disebut Bapanduk atau sistem barter (tukar menukar barang) yang berlaku di antara sesama pedagang. Seorang pedagang sayur dapat menukar sayurannya dengan buah-buahan milik pedagang lain, tanpa melibatkan uang tunai. Ini adalah cerminan kuat dari nilai kekeluargaan dan saling ketergantungan di antara komunitas sungai.

Daya Tarik Wisata dan Upaya Pelestarian

Bagi wisatawan, pasar terapung menawarkan pengalaman yang tidak hanya unik, tetapi juga kaya akan nilai budaya. Untuk mencapai Lokbaintan, pengunjung umumnya menyewa kelotok (perahu bermesin) dari pusat kota Banjarmasin, menyusuri Sungai Martapura selama kurang lebih 30 menit. Perjalanan susur sungai ini sendiri sudah merupakan atraksi yang memanjakan mata, melewati rumah-rumah kayu ulin khas Banjar yang berjejer di tepian sungai.

Pasar Terapung Muara Kuin, meski tidak seramai dulu, tetap menjadi destinasi penting karena nilai historisnya. Pedagang yang tersisa di Muara Kuin kini seringkali menyesuaikan lokasi mereka ke jalur yang dilewati kelotok wisata, sehingga interaksi jual beli banyak terjadi antara wisatawan dan pedagang.

Keberadaan pasar terapung kini menghadapi tantangan besar dari modernisasi, kemudahan akses darat, dan pasar-pasar darat yang lebih terorganisir. Banyak generasi muda yang memilih pekerjaan di darat, mengancam regenerasi pedagang jukung. Oleh karena itu, berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penetapan pasar terapung sebagai warisan budaya, promosi pariwisata, hingga penyelenggaraan Festival Pasar Terapung untuk meningkatkan kesadaran publik dan menarik lebih banyak pengunjung.

Pasar Terapung Lokbaintan dan Muara Kuin adalah lebih dari sekadar tempat berdagang; keduanya adalah warisan hidup yang mencerminkan identitas sejati masyarakat Banjar. Kunjungan ke sini adalah sebuah perjalanan kembali ke masa lampau, sebuah kesempatan untuk merasakan kehangatan keramahan Banjar dan menyaksikan harmoni yang tercipta antara manusia, perahu, dan sungai yang mengalir abadi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU