Kain tradisional selalu menjadi cerminan kekayaan budaya suatu daerah. Di antara jajaran kain nusantara yang memukau, hadir satu permata dari Kalimantan Selatan: Kain Sasirangan. Kata kunci ini tak hanya merujuk pada sehelai kain, tetapi pada sebuah warisan budaya yang terjalin erat dengan identitas Kota Banjarmasin. Artikel ini akan membawa Anda menyelami lebih dalam tentang sejarah, filosofi, proses pembuatan, dan pesona abadi dari Kain Sasirangan ciri khas Banjarmasin.
Mengenal Lebih Dekat Kain Sasirangan
Kain Sasirangan adalah kain tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik pewarnaan rintang. Nama "Sasirangan" sendiri berasal dari kata kerja bahasa Banjar, yaitu menyirang atau sirang yang berarti menjahit jelujur (mengikat atau mencocok) sebelum pencelupan warna. Proses ini merupakan inti dari keunikan Sasirangan, di mana motifnya tidak dilukis melainkan diikat, dijahit, atau dicocol terlebih dahulu.
Awalnya, kain ini dikenal sebagai kain adat yang memiliki fungsi khusus, utamanya sebagai media pengobatan atau ritual. Konon, kain ini hanya boleh dibuat dan dipakai berdasarkan pesanan (pamintaan) dengan tujuan tertentu, misalnya untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Warna dan motifnya pun dipercaya memiliki kekuatan magis atau filosofis yang relevan dengan hajat pemakainya.
🧵 Sejarah dan Filosofi di Balik Sasirangan
Sejarah Kain Sasirangan diperkirakan telah ada sejak abad ke-12, pada masa Kerajaan Negara Dipa. Legenda yang paling terkenal mengaitkan kemunculannya dengan Patih Lambung Mangkurat, tokoh penting dalam sejarah Banjar. Diceritakan bahwa seorang putri dari alam gaib (Putri Junjung Buih) meminta dibuatkan kain yang ditenun dan diwarnai oleh 40 perjaka dan 40 perawan dalam waktu satu hari, yang kemudian menjadi cikal bakal teknik pembuatan Sasirangan.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Kain Sasirangan bergeser dari kain ritual menjadi kain busana sehari-hari dan cinderamata. Meskipun demikian, nilai-nilai filosofisnya tetap melekat, terutama pada motif-motifnya.
Ragam Motif Khas Kain Sasirangan
Motif-motif pada Kain Sasirangan ciri khas Banjarmasin sangat beragam, namun umumnya terinspirasi dari alam sekitar, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Banjar. Beberapa motif populer meliputi:
● Ombak Sinamo: Melambangkan gerakan air sungai Barito dan kehidupan yang dinamis.
● Kembang Kacang: Melambangkan tanaman kacang yang merambat, sering diartikan sebagai kerendahan hati.
● Daun Jaruju: Merujuk pada tanaman obat, melambangkan kesehatan dan penolak bala.
● Bintang Empat: Melambangkan empat penjuru mata angin atau harapan akan keselamatan.
● Irisan Kali (Sungai): Melambangkan jalur kehidupan utama masyarakat Banjarmasin yang dekat dengan sungai.
🎨 Teknik Pembuatan yang Unik
Keunikan utama dari Kain Sasirangan terletak pada teknik pembuatannya yang merupakan kombinasi dari tiga teknik pewarnaan rintang:
1. Jelujur (Sasirangan): Teknik menjahit kain dengan pola tertentu menggunakan benang, kemudian benang ditarik kuat hingga kain mengerut. Area yang mengerut inilah yang akan menolak zat warna.
2. Jumputan (Dicocol): Teknik mengikat kain dengan tali atau karet di beberapa titik untuk membentuk bulatan-bulatan kecil.
3. Tahi Lalat (Dicolet): Teknik mencolek atau meneteskan lilin cair atau bahan penolak warna lainnya di area-area kecil.
Setelah pola terbentuk, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna. Dulu, pewarna yang digunakan adalah pewarna alami dari kulit kayu, kunyit, atau buah. Setelah kering, ikatan dan jahitan dilepas, menampakkan motif indah dengan warna kontras yang membedakannya dari teknik batik tulis atau cap. Kain Sasirangan modern kini banyak menggunakan pewarna sintetis untuk menghasilkan warna-warna cerah yang lebih bervariasi.
Sasirangan Hari Ini: Kebanggaan Banjarmasin
Saat ini, Kain Sasirangan telah menjadi identitas yang melekat pada Kota Banjarmasin, bahkan di Kalimantan Selatan. Pemerintah daerah menetapkannya sebagai kain wajib untuk pakaian kerja pada hari tertentu. Popularitasnya juga meluas ke tingkat nasional dan internasional, di mana para desainer memadukannya ke dalam busana modern, menjadikannya lebih luwes dan fashionable.
Sebagai wisatawan, mencari Kain Sasirangan adalah keharusan. Anda dapat menemukan berbagai produk mulai dari kain lembaran, kemeja, gaun, hingga aksesoris seperti tas dan dompet, terutama di pusat-pusat perbelanjaan dan sentra industri Sasirangan di Banjarmasin. Membeli Kain Sasirangan ciri khas Banjarmasin berarti Anda tidak hanya mendapatkan oleh-oleh, tetapi juga turut melestarikan warisan budaya yang adiluhung.
Kain Sasirangan adalah kisah tentang harmoni warna, ketekunan, dan filosofi hidup masyarakat Banjar. Ia adalah simbol yang membawa cerita panjang dari sungai-sungai Banjarmasin, menawarkan pesona yang tak lekang dimakan waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber