Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 18:33 WIB

Rahasia di Bawah Tanah Kalsel: Harta Batubara, Ancaman Banjir, dan Warisan yang Terkubur

Author

Pemandangan Bukit Matang Keladan, Aranio, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan (Pinterest/Pampes)

KALSEL - Banyak yang mengenal Kalimantan Selatan (Kalsel) dari permukaannya: sungai-sungai besarnya, budaya Banjarnya, dan belakangan, bencana banjir yang menyisakan duka. Namun, narasi sebenarnya tentang provinsi ini justru tertanam jauh di dalam perutnya. Di bawah lapisan tanah dan hutan tersimpan kekayaan yang telah membentuk takdirnya: batubara.

Berdasarkan data resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kalsel adalah salah satu penyangga utama industri batubara nasional. Cadangan dan sumber dayanya yang mencapai miliaran ton dikelola oleh puluhan perusahaan tambang, baik skala besar maupun kecil.

Fakta ini menjawab mengapa jejak aktivitas pertambangan terbuka (open-pit) begitu dominan, mengubah lanskap permukaan dengan jaringan jalan tambang dan dermaga-dermaga sungai.

Namun, kekayaan ini bukanlah suatu kebetulan alam. Rahasia kelimpahan batubara Kalsel terungkap melalui kajian geologi. Artikel-artikel ilmiah terpercaya mengungkap bahwa provinsi ini duduk di atas Barito Basin, sebuah cekungan sedimen raksasa.

Baca juga: Rahasia Hutan Kalimantan: Mengungkap Potensi Aromaterapi dari Bunga-Bunga Asli Borneo

Pada zaman Eosen hingga Miosen, kondisi ideal memungkinkan terbentuknya lapisan-lapisan (seam) batubara tebal, beberapa bahkan mencapai ketebalan beberapa meter dan dapat dilacak secara lateral hingga puluhan kilometer. Ini adalah harta karun dari masa lalu yang kini dieksploitasi.

Yang lebih menarik, batubara di Kalsel bukan sekadar batuan padat. Stratigrafi dan kematangan organiknya juga menyimpan potensi lain, yaitu coal-bed methane (CBM) atau gas metana yang terperangkap dalam celah-celah batubara. Kajian geologi menyebut adanya coal-sourced petroleum system, yang meski tidak sebesar ladang minyak konvensional, menawarkan peluang energi alternatif dan sekaligus tantangan keselamatan tambang akibat akumulasi gas.

Sayangnya, narasi di bawah tanah ini memiliki konsekuensi yang nyata di permukaan. Eksploitasi massif telah meninggalkan luka yang dalam. Liputan investigasi Mongabay dan media lingkungan lainnya mendokumentasikan dengan jelas bagaimana lubang-lubang tambang yang terbengkalai, tumpukan overburden, dan perubahan alur air telah menjadi faktor pemicu banjir dan erosi yang parah.

Baca juga: Revolusi Hijau Kalsel: AI dan Mata Uang Digital Komoditas Pertanian

Deforestasi untuk tambang mengganggu daerah tangkapan air, sehingga ketika hujan datang, air tidak lagi diserap tanah dengan baik, melainkan langsung meluncur deras ke pemukiman.

Aktivitas "menggali harta" dari bawah tanah Kalsel ternyata juga menggali masalah kompleks. Isunya telah bergeser dari sekadar produksi komoditas menjadi persoalan tata kelola lingkungan dan keadilan sosial. Beberapa kejadian banjir besar bahkan memicu penyelidikan terhadap operasi perusahaan tambang, mempertanyakan kesesuaiannya dengan aturan.

Masa depan apa yang tersisa di bawah tanah Kalsel? Selain terus mengeksploitasi batubara yang suatu hari akan habis, perhatian perlu dialihkan pada pemetaan akurat potensi CBM dan, yang paling krusial, pada inventarisasi dan reklamasi lubang tambang bekas.

Mengelola warisan yang terkubur bukan hanya tentang mengambilnya, tetapi juga tentang memulihkan luka yang ditinggalkannya di permukaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Mongabay, Kementrian ESDM, ScienceDirect

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU