Senin, 15 SEPTEMBER 2025 • 07:00 WIB

Mengapa Jalan Kaki yang Dulunya Menyenangkan Kini Terasa Berat?

Author

Seseorang yang sedang melakukan jalan kaki (Pinterest/Mobile Wallpapers)

KALSEL – Jalan kaki, aktivitas sederhana yang dulu kerap dilakukan dengan riang, kini seolah kehilangan pesonanya. Bahkan untuk jarak sangat pendek sekalipun—sekitar 500 meter—banyak orang lebih memilih menggunakan kendaraan. Perubahan perilaku ini tidak terjadi begitu saja.

Berdasarkan kajian akademis dan laporan kebijakan, setidaknya ada tiga faktor utama yang menjelaskan fenomena ini: lingkungan binaan, persepsi keselamatan, dan faktor praktis sehari-hari.

1. Lingkungan yang Tidak Lagi Mendukung

Lingkungan binaan memainkan peran krusial dalam menentukan apakah orang ingin berjalan kaki atau tidak. Trotoar sempit, rusak, atau bahkan tidak ada, menjadi penghalang nyata. Di banyak kota, trotoar justru digunakan untuk parkir motor, berjualan, atau bahkan dijadikan jalur alternatif kendaraan bermotor. 

Selain itu, kurangnya pepohonan sebagai peneduh membuat berjalan kaki di iklim tropis seperti Indonesia terasa menyiksa. Keringat dan terik matahari sering kali menjadi alasan orang menghindari berjalan kaki, meski untuk jarak dekat.

Baca juga: Gerakan Sekolah Sehat di Kalimantan Selatan: Transformasi Pendidikan Menuju Generasi Sehat dan Berkarakter

2. Persepsi Ketidaknyamanan dan Ketidakamanan

Faktor psikologis juga berkontribusi besar. Persepsi akan keselamatan, baik dari lalu lintas maupun kriminalitas, sering kali membuat orang enggan berjalan kaki. Pengalaman tidak menyenangkan seperti cat-calling, copet, atau jambret membuat banyak orang, terutama perempuan, merasa was-was. 

Selain itu, lalu lintas yang padat dan kurangnya fasilitas penyeberangan yang aman (seperti zebra cross dan lampu pejalan kaki) memperkuat persepsi bahwa berjalan kaki adalah aktivitas berisiko.

3. Gaya Hidup Modern dan Faktor Praktis

Tuntutan kehidupan modern membuat orang cenderung memprioritaskan efisiensi. "Trip-chaining"—menggabungkan beberapa tujuan dalam satu perjalanan—menjadikan kendaraan pribadi sebagai pilihan yang lebih praktis. Membawa barang berat, mengantar anak, atau sekadar ingin cepat sampai ke tempat tujuan adalah alasan-alasan yang sering dikemukakan.

Kemudahan layanan transportasi online dan e-commerce juga turut mengurangi frekuensi jalan kaki. Untuk apa berjalan ke minimarket jika belanja kebutuhan sehari-hari sudah bisa dilakukan dari rumah?

Baca juga: 4 Risiko Kesehatan Jika Konsumsi Telur Berlebihan

4. Perubahan Nilai dan Kebiasaan Sosial

Budaya mobil dan motor telah menggeser norma sosial. Kendaraan pribadi tidak hanya dipandang sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai simbol status. 

Di sisi lain, berjalan kaki sering kali diidentikkan dengan keterbatasan ekonomi. Perubahan ini diperparah oleh kebijakan pembangunan yang lebih memprioritaskan kendaraan bermotor daripada pejalan kaki. 

Jalan yang lebar dan parkir yang melimpah mengirim pesan bahwa mobil adalah raja, sementara pejalan kaki adalah warga kelas dua.

5. Melemahnya Aspek Menyenangkan dalam Berjalan

Dulu, berjalan kaki bisa menjadi momen me time yang menyenangkan, kesempatan untuk menikmati pemandangan, atau bahkan berinteraksi dengan tetangga. Kini, polusi udara, kebisingan, dan hilangnya ruang-ruang hijau telah mengurangi reward emosional dari berjalan kaki . Ketika aktivitas ini tidak lagi memberikan kebahagiaan, motivasi untuk melakukannya pun memudar.

Baca juga: Bikin Kamu Makin Cerdas! Berikut 7 Kebiasaan untuk Upgrade Otak yang Simpel

Lalu, Bagaimana Membangkitkan Kembali Gairah Jalan Kaki?

Laporan International Transport Forum (ITF) OECD merekomendasikan beberapa solusi untuk membuat jalan kaki kembali menarik:

  • Tingkatkan kualitas infrastruktur: Perbaiki trotoar, tambahkan pepohonan peneduh, tempat duduk, dan pencahayaan yang memadai.
  • Buat tujuan yang berjarak kaki: Dorong mixed-use development sehingga warung, minimarket, atau halte transportasi umum dapat dicapai dengan berjalan kaki.
  • Prioritaskan keselamatan pejalan kaki: Terapkan zona pelambatan kendaraan, bangun lebih banyak zebra cross, dan pastikan penerangan yang baik di malam hari.
  • Kampanye perubahan perilaku: Ajak masyarakat untuk kembali berjalan kaki melalui walking group atau event-event komunitas.

Penurunan minat berjalan kaki untuk jarak dekat adalah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh faktor fisik, psikologis, dan sosial. Membangun kembali kecintaan pada jalan kaki membutuhkan pendekatan holistik: menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, menyediakan tujuan yang berarti, serta mengubah persepsi dan kebiasaan masyarakat. Dengan langkah-langkah tersebut, bukan tidak mungkin jalan kaki akan kembali menjadi aktivitas yang menyenangkan dan membumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Factors Influencing The Decision To Drive Or Walk Short Distances, Improving The Quality Of Walking And Cycling In Cities (International Transport Forum / OECD), Built Environment Correlates Of Walking: A Review

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU