Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, masyarakat di wilayah rawan banjir mulai memikirkan kembali konsep hunian yang aman dan berkelanjutan. Dari rumah lanting Banjar di Kalimantan hingga inovasi modular seperti model RAFTA, desain ini menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern untuk menciptakan hunian yang aman, sehat, dan berkelanjutan. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana arsitektur vernakular dan inovasi fabrikasi menjawab tantangan hidup di wilayah perairan.
Akarnya dalam Tradisi
Masyarakat Banjar telah lama mengandalkan rumah lanting sebagai respons alami terhadap dinamika sungai. Strukturnya mengapung di atas rakit bambu tiga lapis, dengan kayu ulin—yang tahan air dan rayap—sebagai tiang utama. Denahnya terbuka, memungkinkan sirkulasi udara optimal dan akses langsung ke sungai. Fasadnya sederhana, dengan atap pelana yang efisien mengalirkan air hujan. Ruang dalamnya pun dirancang adaptif: ruang tamu "menyambut" sungai, sementara kamar tidur berada di bagian belakang untuk privasi.
Inovasi untuk Ketahanan
Tantangan modern seperti banjir rob dan degradasi material mendorong lahirnya solusi seperti model RAFTA (Rumah Apung Fabrikasi Tepian Air). Dikembangkan oleh Kusliansjah (2012), desain ini mengadopsi sistem modular berbahan rangka baja ringan, pelampung EPS (expanded polystyrene), dan panel sandwich yang tahan air serta isolasi termal. Komponennya diproduksi di pabrik lalu dirakit di lokasi, meminimalkan limbah dan gangguan ekosistem sungai. Sistem utilitasnya pun terintegrasi, termasuk panel surya dan filtrasi air hujan, menjadikannya mandiri energi.
Pertimbangan Lingkungan
Keberlanjutan adalah kunci. Desain rumah apung harus mempertimbangkan HMAX (ketinggian air maksimum) dan kecepatan arus, serta dampak ekologis seperti bayangan yang menghambat pertumbuhan plankton. Pengolahan limbah terisolasi dan penggunaan material ramah lingkungan—seperti bambu yang bisa diperbarui atau EPS yang ringan—menjadi prioritas. Di Torosiaje, Sulawesi, pemukiman Suku Bajo bahkan memanfaatkan terumbu karang alami sebagai "penahan ombak", menunjukkan harmoni antara desain dan alam.
Baca juga: Bekantan Si Penjaga Sungai Adalah Kekuatan Superhero yang Terinspirasi dari Alam
Pedoman Praktis untuk Desain
Bagi yang tertarik mengadopsi konsep ini, berikut prinsip dasarnya:
1. Survei tapak secara mendalam, termasuk pola arus dan sejarah banjir.
2. Pilih sistem pelampung sesuai kebutuhan: bambu untuk tradisi, EPS untuk modernitas.
3. Utamakan modularitas, memudahkan perawatan dan adaptasi di masa depan.
4. Sistem utilitas harus aman, seperti kabel listrik tahan air dan tangki septik terapung.
Rumah apung bukan lagi sekadar respons darurat terhadap banjir, melainkan simbol ketahanan dan inovasi. Dengan memadukan tradisi seperti rumah lanting Banjar dan teknologi seperti RAFTA, hunian ini menawarkan masa depan yang lebih adaptif bagi komunitas tepian sungai. Seperti kata peneliti Umar Mt dari Gorontalo, "Adaptasi adalah tentang belajar dari alam, lalu berinovasi tanpa melupakan akar".
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mongabay, Kusliansjah, K. (2012). Model RAFTA 2011: Inovasi Perancangan Arsitektur Tepian Sungai Rawan Banjir. UNPAR Repository., Triyono, Dkk. (2025). Inovasi Desain Rumah Apung Untuk Banjir Rob. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia.