Senin, 28 JULI 2025 • 21:28 WIB

Sehari Tanpa Listrik di Desa Banjar: Bagaimana Warga Bertahan?

Author

Bersepeda bersama teman teman di pagi hari yang asri (Pinterest/kamalieditor)

Listrik bukan sekadar sumber penerangan. Ia menjadi tulang punggung aktivitas harian, mulai dari komunikasi, pendidikan, hingga ekonomi. Namun, di beberapa desa di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, hidup tanpa aliran listrik selama 24 jam masih menjadi kenyataan. Bagaimana warga bertahan? Simak kisahnya.

Desa yang Baru Menyala: Perjuangan PLN Menjangkau Wilayah Terpencil

Meski PT PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng) gencar memperluas jaringan listrik, masih ada wilayah yang baru merasakan listrik 24 jam. Pada awal 2022, PLN meresmikan proyek kelistrikan di enam desa - Banua Riam, Kala'an, Apuai, Belangian, Pa'au, dan Artain - yang sebelumnya hanya menikmati listrik 12 jam sehari. Pembangunan jaringan sepanjang 16 km dan pembangkit diesel PLTD Banua Riam menjadi solusi sambil tetap mendukung target netralitas karbon pemerintah.

Baca juga: Gedung Rektorat ULM Banjarmasin Ludes Terbakar, Ruang Akademik dan Data Mahasiswa Terancam

Namun, di ujung Desa Pematang Hambawang, Kecamatan Astambul, masih ada warga yang hidup dalam gelap. Jalan yang buruk membuat jaringan PLN sulit menjangkau, memaksa mereka bergantung pada sumber penerangan alternatif.

Hidup dalam Gelap: Strategi Warga Bertahan

Tanpa listrik, warga mengandalkan cara-cara tradisional. Pengalaman Engkus Kusnadi (69 tahun), meski tinggal di Kota Banjar, Jawa Barat, mencerminkan realita serupa di banyak daerah terpencil:

  • Penerangan: Lentera minyak tanah dan lilin menjadi andalan. Namun, saat persediaan habis di tengah malam, aktivitas terpaksa berhenti.
  • Memasak: Kompor gas atau tungku kayu dipakai di siang hari. Malam harinya, kegiatan memasak melambat karena penerangan terbatas.
  • Komunikasi: Warga harus ke rumah tetangga atau kerabat yang memiliki genset untuk mengisi daya ponsel, sekadar agar tetap terhubung dengan keluarga atau layanan darurat.

Aktivitas Sehari-hari Tanpa Listrik: Apa yang Bisa Dilakukan?

Siang Hari: Waktu Produktivitas
Mengolah hasil pertanian: Menjemur padi, menyiram kebun, atau memproses ikan asin - semua dilakukan manual.
Gotong royong: Warga memanfaatkan waktu untuk memperbaiki jalan setapak atau saluran irigasi, kegiatan yang tak butuh listrik.

Baca juga: Tambang Oranje Nassau, Situs Kolonial Belanda yang Menyimpan Jejak Industri Pertambangan Tertua di Indonesia

Sore hingga Malam: Ketika Kegiatan Terbatas
Penerangan seadanya: Lampu minyak dan lilin membuat belajar anak-anak terpaksa lebih singkat.
Kegiatan sosial: Warga berkumpul di balai desa, mengaji bersama, atau bermain musik akustik.
Usaha kecil: Sebagian tetap berjualan makanan atau kerajinan tangan di bawah cahaya lentera.

Komunikasi & Informasi: Tantangan Terbesar
Sinyal seluler hilang: Jika menara BTS tak memiliki genset, akses informasi dan komunikasi terputus.
Pergantian jadwal: Warga menggeser aktivitas malam ke siang hari, seperti belajar atau menonton televisi saat listrik menyala.

Harapan di Tengah Kegelapan

PLN terus berkomitmen memperluas jaringan listrik hingga pelosok desa, termasuk melalui program elektrifikasi berbasis energi terbarukan. Namun, infrastruktur jalan yang buruk dan medan yang sulit masih menjadi tantangan. Warga seperti Engkus berharap pemerintah tak hanya membangun jaringan listrik, tetapi juga memperbaiki akses jalan agar listrik bisa menjangkau mereka yang masih hidup dalam gelap.

Tanpa listrik, hidup memang tak berhenti - tapi perlahan. Kisah warga Banjar ini mengingatkan kita bahwa di balik kemajuan teknologi, masih ada yang harus berjuang hanya untuk menyalakan lampu di malam hari.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara News, Duta TV

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU