Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 29 NOVEMBER 2025 • 11:03 WIB

Mengenal Kain Sasirangan: Warisan Budaya dan Pesona Warna Khas Banjarmasin

Mengenal Kain Sasirangan: Warisan Budaya dan Pesona Warna Khas Banjarmasinkain sasirangan (@zasirangan_)

Kain tradisional selalu menjadi cerminan kekayaan budaya suatu daerah. Di antara jajaran kain nusantara yang memukau, hadir satu permata dari Kalimantan Selatan: Kain Sasirangan. Kata kunci ini tak hanya merujuk pada sehelai kain, tetapi pada sebuah warisan budaya yang terjalin erat dengan identitas Kota Banjarmasin. Artikel ini akan membawa Anda menyelami lebih dalam tentang sejarah, filosofi, proses pembuatan, dan pesona abadi dari Kain Sasirangan ciri khas Banjarmasin. 

Mengenal Lebih Dekat Kain Sasirangan

Kain Sasirangan adalah kain tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dibuat dengan teknik pewarnaan rintang. Nama "Sasirangan" sendiri berasal dari kata kerja bahasa Banjar, yaitu menyirang atau sirang yang berarti menjahit jelujur (mengikat atau mencocok) sebelum pencelupan warna. Proses ini merupakan inti dari keunikan Sasirangan, di mana motifnya tidak dilukis melainkan diikat, dijahit, atau dicocol terlebih dahulu.

Awalnya, kain ini dikenal sebagai kain adat yang memiliki fungsi khusus, utamanya sebagai media pengobatan atau ritual. Konon, kain ini hanya boleh dibuat dan dipakai berdasarkan pesanan (pamintaan) dengan tujuan tertentu, misalnya untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Warna dan motifnya pun dipercaya memiliki kekuatan magis atau filosofis yang relevan dengan hajat pemakainya.

🧵 Sejarah dan Filosofi di Balik Sasirangan

Sejarah Kain Sasirangan diperkirakan telah ada sejak abad ke-12, pada masa Kerajaan Negara Dipa. Legenda yang paling terkenal mengaitkan kemunculannya dengan Patih Lambung Mangkurat, tokoh penting dalam sejarah Banjar. Diceritakan bahwa seorang putri dari alam gaib (Putri Junjung Buih) meminta dibuatkan kain yang ditenun dan diwarnai oleh 40 perjaka dan 40 perawan dalam waktu satu hari, yang kemudian menjadi cikal bakal teknik pembuatan Sasirangan.

Seiring berjalannya waktu, fungsi Kain Sasirangan bergeser dari kain ritual menjadi kain busana sehari-hari dan cinderamata. Meskipun demikian, nilai-nilai filosofisnya tetap melekat, terutama pada motif-motifnya.

Ragam Motif Khas Kain Sasirangan

Motif-motif pada Kain Sasirangan ciri khas Banjarmasin sangat beragam, namun umumnya terinspirasi dari alam sekitar, kepercayaan, dan kehidupan masyarakat Banjar. Beberapa motif populer meliputi:

● Ombak Sinamo: Melambangkan gerakan air sungai Barito dan kehidupan yang dinamis.

● Kembang Kacang: Melambangkan tanaman kacang yang merambat, sering diartikan sebagai kerendahan hati.

● Daun Jaruju: Merujuk pada tanaman obat, melambangkan kesehatan dan penolak bala.

● Bintang Empat: Melambangkan empat penjuru mata angin atau harapan akan keselamatan.

● Irisan Kali (Sungai): Melambangkan jalur kehidupan utama masyarakat Banjarmasin yang dekat dengan sungai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Kain Sasirangan: Warisan Budaya dan Pesona Warna Khas Banjarmasin

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!