KALSEL - Kalimantan Selatan sedang menghadapi gelombang kekerasan berdarah yang memprihatinkan. Dalam dua pekan terakhir saja, setidaknya enam kasus perkelahian fatal terjadi di wilayah ini, menurut laporan PojokBanua.com (15 Juni 2025). Banyak dari kasus ini berakhir dengan korban jiwa, menimbulkan keresahan di masyarakat.
Yang lebih mengkhawatirkan, kekerasan ini tidak sekadar konflik spontan. Antropolog Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, melihat adanya pola vendetta—balas dendam berantai yang berakar pada persoalan sosial yang lebih dalam.
Beberapa kasus terbaru menunjukkan motif kekerasan yang berulang, yaitu dendam kesumat dan sakit hati.
Di Barito Kuala, Juni 2025, Muhammad Firdaus (41) menusuk Gusti Hendriansyah (40) hingga tewas. Motifnya adalah sakit hati karena perselingkuhan. Hanya berselang beberapa hari, di Banjarmasin, seorang pemuda bernama Irfan terlibat duel maut dengan Muammar (33) yang berakhir tragis. Konon, Muammar adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), namun dendam lama tetap menjadi pemicu.
Baca juga: Warga Barabai Ditemukan Meninggal Mengapung di Sungai Barabai
Kasus lain terjadi di Tembus Mantuil (Oktober 2024), di mana dua kelompok warga bentrok dalam perkelahian berdarah. Polisi menyebut motifnya sebagai "dendam lama" yang tak kunjung terselesaikan.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejarah Kalsel mencatat tradisi Ngayau (perburuan kepala) di kalangan Suku Dayak pada masa lalu, yang juga dilatarbelakangi balas dendam. Meski secara resmi dihentikan sejak 1894, semangat balas dendam ternyata masih bisa muncul dalam bentuk kekerasan modern.
Akar Masalah
Menurut analisis sosiologis, ada beberapa faktor yang memicu kekerasan di Kalimantan Selatan
- Ketimpangan Ekonomi
Masuknya perusahaan-perusahaan besar di sektor pertambangan dan perkebunan seringkali meminggirkan masyarakat lokal. Konflik lahan dan kesenjangan ekonomi menjadi bara dalam sekam yang mudah menyulut emosi. - Sistem Hukum yang Dianggap Tidak Adil
Banyak warga yang merasa keadilan tidak bisa mereka dapatkan melalui jalur hukum. Akibatnya, mereka mengambil jalan pintas: main hakim sendiri. - Krisis Moral dan Pendidikan
Data Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalsel menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak juga meningkat. Faktor utamanya adalah kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan krisis moral.
Baca juga: Evaluasi Program Rehabilitasi Hutan di Kalsel: Tantangan Air dan Komitmen Iklim
Mencari Solusi
Pemerintah dan masyarakat mulai bergerak mencari solusi. Beberapa upaya yang sedang dilakukan antara lain:
- Pendekatan Keamanan Proaktif
Polisi meningkatkan patroli dan razia senjata tajam untuk mencegah eskalasi kekerasan. - Pembinaan Mental Generasi Muda
Anggota DPRD setempat mendorong program pelatihan mediasi konflik dan pendidikan karakter di sekolah-sekolah. - Mediasi Berbasis Budaya
Melibatkan tokoh adat dan tokoh masyarakat dalam menyelesaikan konflik secara damai dianggap sebagai langkah penting untuk memutus siklus balas dendam
Kekerasan di Kalsel adalah cermin dari masalah sosial yang kompleks. Tidak cukup hanya menangkap pelaku; yang dibutuhkan adalah pendekatan menyeluruh yang menyentuh akar masalah: keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pendidikan.
Seperti kata Nasrullah, antropolog ULM, "Dendam hanya melahirkan dendam baru. Kita butuh keberanian untuk memaafkan dan sistem yang adil untuk mencegah konflik sebelum terjadi."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pojokbanua.com, BRIDA Kalsel, Wawancara Antropolog ULM