Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan (Disdikbud Kalsel) kini tengah menggencarkan gerakan besar untuk memastikan tidak ada anak di Banua yang tertinggal dalam hal pendidikan. Fokus utama kini diarahkan pada penguatan lembaga pendidikan nonformal sebagai garda terdepan dalam menekan angka putus sekolah sekaligus mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah.
Solusi Fleksibel Melalui Jalur Nonformal
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menegaskan bahwa jalur nonformal adalah solusi cerdas dan strategis bagi anak-anak yang memiliki kendala untuk menempuh pendidikan di sekolah formal. Program kesetaraan yang mencakup Paket A, Paket B, dan Paket C kini tidak lagi dipandang sebelah mata.
Melalui kebijakan terbaru, Disdikbud Kalsel menerapkan skema kombinasi pembelajaran yang jauh lebih fleksibel. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk menyeimbangkan antara tanggung jawab pribadi dengan kewajiban belajar tanpa harus kehilangan hak atas akses pendidikan yang berkualitas.
Mengintegrasikan Life Skill dan Digitalisasi
Satu terobosan penting yang diusung oleh Galuh Tantri adalah kolaborasi lintas sektor untuk menyisipkan pelatihan kecakapan hidup (life skill) langsung ke dalam kurikulum kesetaraan. Langkah ini diambil agar para lulusan pendidikan nonformal tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga memiliki keahlian teknis yang kompetitif di pasar kerja.
Selain itu, transformasi digital kini mulai merambah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di seluruh Kalsel. Penggunaan sistem pembelajaran jarak jauh serta asesmen berbasis komputer menjadi standar baru untuk memastikan proses belajar mengajar tetap efektif di era modern.
Menjawab Tantangan Kualitas Belajar
Meski inovasi terus berjalan, Disdikbud Kalsel tetap memberikan perhatian serius pada hasil evaluasi tahun sebelumnya. Tantri mengungkapkan bahwa capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan hasil yang belum maksimal. Faktor utama yang disinyalir menjadi penghambat adalah rendahnya minat baca serta tingginya distraksi dari media sosial yang menurunkan fokus siswa.
Oleh karena itu, pada kegiatan di Balai Guru dan Tenaga Kependidikan baru-baru ini, ia menekankan agar setiap dinas pendidikan di kabupaten/kota memastikan program yang dijalankan memberikan dampak nyata pada kompetensi siswa, bukan sekadar pemenuhan administratif. "Keberhasilan pendidikan diukur dari siswanya dan hasil belajarnya," tegas Tantri pada Selasa (3/3/2026).
Melalui sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Kalimantan Selatan optimistis mampu mengembalikan hak pendidikan bagi setiap anak dan mencetak generasi yang siap kerja melalui jalur nonformal yang berkualitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel