Jumat, 24 JULI 2026 • 09:54 WIB

Inovasi Berbasis AI, SMAN 7 Banjarmasin Pertahankan Gelar Juara Mading 3D Museum Wasaka 2026

Author

Sabet Juara Berturut-Turut, SMAN 7 Banjarmasin Kembali Rajai Lomba Mading 3D Museum Wasaka 2026 (mckalsel)

KALSEL – Prestasi membanggakan kembali diukir oleh generasi muda Banua. Tim dari SMAN 7 Banjarmasin sukses menorehkan tinta emas dengan meraih Juara Pertama dalam ajang Lomba Majalah Dinding (Mading) Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan oleh Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) Banjarmasin pada Kamis (23/7/2026).

Kemenangan ini terasa kian istimewa karena SMAN 7 Banjarmasin berhasil mempertahankan gelar juara bertahan yang sebelumnya juga mereka sabet pada tahun 2025. Hasil ini membuktikan konsistensi, kreativitas, dan kualitas karya para siswa SMAN 7 Banjarmasin di tingkat daerah.

Perwakilan tim SMAN 7 Banjarmasin, Diva Aprilia, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut. Ia menjelaskan bahwa perjalanan sekolah mereka di ajang ini sebenarnya telah dimulai sejak beberapa tahun lalu.

“Sudah dari 2021 kami ikut kompetisi ini, tetapi skuat dengan komposisi anggota yang sama baru terbentuk pada 2025. Alhamdulillah, pada 2025 dan 2026 kami berhasil meraih juara satu secara berturut-turut,” ujar Diva seusai pengumuman pemenang perlombaan.

Tingkatkan Kompleksitas Karya dengan Teknologi AI
Mempertahankan predikat juara tentu bukan perkara mudah. Persaingan yang makin ketat menuntut tim SMAN 7 Banjarmasin untuk terus berinovasi dan menyajikan karya mading yang tidak hanya estetis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan zaman.

Ahmad Gozi Islami, perancang mesin Mading 3D SMAN 7 Banjarmasin, membeberkan bahwa karya yang mereka bawakan pada tahun 2026 ini memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Kejutan utama yang mereka tampilkan adalah pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

“Dari segi mesin dan sistem, kompleksitas tahun ini jauh lebih tinggi. Kami mengintegrasikan teknologi AI ke dalam mading, sehingga pengunjung dapat berinteraksi langsung dan mengajukan pertanyaan kepada sistem AI tersebut,” jelas Gozi.

Tak berhenti di situ, untuk meningkatkan pengalaman edukatif para pengunjung Museum Wasaka, mading 3D inovatif ini juga dilengkapi dengan beragam fitur interaktif menarik. Di antaranya adalah efek permainan kabut serta fasilitas photobooth canggih yang membuat pameran mading terasa futuristik namun tetap edukatif.

Belajar dari Evaluasi Kegagalan Masa Lalu
Keberhasilan besar ini tidak didapatkan secara instan. Gozi menuturkan bahwa pengalaman pahit pada kompetisi tahun-tahun sebelumnya menjadi bahan evaluasi terpenting bagi timnya.

Pada ajang sebelumnya, beberapa perangkat elektronik dan komponen mesin mading mereka sempat mengalami kerusakan parah akibat musibah banjir. Kejadian tersebut tak membuat mereka patah semangat, melainkan menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas proteksi, daya tahan, serta performa mesin agar tampil lebih maksimal pada kompetisi tahun 2026.

“Belajar dari pengalaman tahun lalu yang sempat terkendala masalah teknis, pada lomba kali ini kami merancang segalanya lebih matang dan berupaya menampilkan hasil yang paling maksimal,” pungkas Gozi penuh optimisme.

Kemenangan beruntun SMAN 7 Banjarmasin dalam ajang Lomba Mading 3D Museum Wasaka ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi antara literasi, seni visual, dan penguasaan teknologi seperti AI mampu melahirkan karya inovatif berdaya saing tinggi. Prestasi ini diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kalimantan Selatan untuk terus berkarya dan berinovasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU