Selasa, 31 MARET 2026 • 02:31 WIB

Ekonomi Kalimantan Selatan Awal 2026: Tumbuh Positif di Tengah Tantangan Inflasi

Author

Ekonomi Kalimantan Selatan 2026: Tumbuh Positif di Tengah Tantangan Inflasi (pinterest)

Momentum Positif Ekonomi dan Fiskal Kalimantan Selatan di Awal 2026
Kondisi ekonomi dan fiskal di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan performa yang menggembirakan pada pembukaan tahun anggaran 2026. Berdasarkan catatan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Kalimantan Selatan, momentum pertumbuhan tetap terjaga berkat pengelolaan anggaran yang efektif dan fondasi ekonomi daerah yang resilien.

Kepala Kanwil DJPb Kalsel, Catur Ariyanto Widodo, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bumi Lambung Mangkurat pada Triwulan IV 2025 telah mencapai angka 5,46 persen secara year on year (yoy). Jika dilihat secara kumulatif, pertumbuhannya berada di angka 5,22 persen. Angka ini memosisikan Kalimantan Selatan sebagai daerah dengan pertumbuhan tertinggi ketiga di regional Kalimantan, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa daya saing ekonomi lokal tetap kompetitif di tingkat nasional.

Realisasi Fiskal dan Surplus APBD
Dari sisi kebijakan fiskal, realisasi Belanja Negara di Kalimantan Selatan hingga Februari 2026 telah menyentuh angka Rp4,55 triliun. Angka ini setara dengan 15,25 persen dari total pagu anggaran sebesar Rp29,81 triliun. Menariknya, porsi terbesar dari serapan anggaran ini dialokasikan untuk Transfer ke Daerah (TKD) yang mencapai Rp3,69 triliun. Dukungan dana transfer ini krusial untuk memastikan roda pembangunan di tingkat kabupaten dan kota tetap berjalan optimal.

Kinerja APBD Kalsel juga menunjukkan tren positif dengan mencatatkan surplus sebesar Rp1,87 triliun pada awal tahun. Surplus ini memberikan ruang fiskal yang cukup luas bagi pemerintah daerah untuk melakukan intervensi ekonomi maupun menjalankan program strategis bagi kesejahteraan masyarakat.

Neraca Perdagangan yang Resilien
Meskipun dinamika global masih fluktuatif, neraca perdagangan Kalimantan Selatan tetap mampu mencatatkan surplus sebesar US$752,34 juta hingga Februari 2026. Surplus ini didorong oleh nilai ekspor yang mencapai US$884,41 juta. Walaupun terdapat kontraksi volume pada komoditas andalan seperti batubara dan Crude Palm Oil (CPO), posisi dagang Kalsel secara keseluruhan masih berada di jalur hijau. Di sisi lain, peningkatan impor terjadi pada komoditas minyak petroleum yang mencapai angka US$132,07 juta.

Tantangan Inflasi dan Langkah Strategis TPID
Di balik capaian positif tersebut, Kalimantan Selatan menghadapi tantangan pada sisi stabilitas harga. Inflasi pada Februari 2026 tercatat sebesar 5,97 persen (yoy), angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 4,76 persen. Faktor pemicu utama kenaikan harga ini berasal dari tarif listrik, emas perhiasan, serta kebutuhan pokok seperti beras dan daging ayam ras.

Guna menjaga daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus bergerak cepat. Operasi pasar murah menjadi ujung tombak dengan menyalurkan sedikitnya 13,20 ribu ton beras SPHP. Pemantauan stok pangan secara intensif juga dilakukan di pasar-pasar besar seperti Pasar Sentra Antasari untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap aman, terutama menjelang momentum Ramadan.

Dengan koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal pusat dan daerah, ekonomi Kalimantan Selatan optimis dapat terus tumbuh stabil sepanjang tahun 2026.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU