Tren Positif Investasi di Banua: Transaksi Saham Kalsel Tembus Rp3,62 Triliun
Kesadaran masyarakat Kalimantan Selatan terhadap pentingnya investasi menunjukkan lonjakan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan, kinerja pasar modal di wilayah ini terus menunjukkan tren positif hingga penghujung tahun 2025. Tidak hanya dari sisi nilai transaksi, pertumbuhan ini juga didorong oleh melesatnya jumlah investor lokal yang mulai melek literasi keuangan.
Pertumbuhan Eksponensial Investor Saham dan Reksa Dana
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Selatan, Agus Maiyo, mengungkapkan bahwa nilai transaksi saham di Bumi Antasari tercatat mencapai Rp3,62 triliun per Desember 2025. Angka yang fantastis ini berbanding lurus dengan jumlah pemegang Single Investor Identification (SID) saham yang kini menyentuh angka 497.131 investor.
Tren ini tidak hanya berhenti di instrumen saham. Reksa dana pun menjadi primadona baru bagi masyarakat Kalsel yang menginginkan diversifikasi portofolio. Nilai penjualan reksa dana tercatat mencapai Rp0,715 triliun dengan total investor mencapai 995.860 SID. Angka ini menunjukkan bahwa hampir satu juta penduduk Kalimantan Selatan telah mulai mempercayakan masa depan finansial mereka melalui instrumen pasar modal.
Dinamika Industri Keuangan Non-Bank (IKNB)
Di sisi lain, sektor industri keuangan non-bank menampilkan performa yang beragam. Piutang pembiayaan di Kalsel tercatat sebesar Rp11,89 triliun pada Desember 2025. Meski mengalami sedikit kontraksi sebesar 2,91 persen secara tahunan (year-on-year), kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) di angka yang sehat, yakni 1,94 persen.
Kabar baik datang dari sektor dana pensiun yang aset bersihnya tumbuh 10,12 persen menjadi Rp377 miliar. Begitu pula dengan industri pergadaian yang mengalami lonjakan pertumbuhan luar biasa sebesar 61,59 persen dengan nilai pembiayaan mencapai Rp912 miliar per Mei 2025. Hal ini menandakan bahwa akses masyarakat terhadap pembiayaan alternatif masih sangat kuat.
Digitalisasi dan Perlindungan Konsumen
Sektor pinjaman daring (pindar) atau fintech lending juga mencatat kenaikan signifikan. Hingga Agustus 2025, outstanding pembiayaan meningkat 31,13 persen menjadi Rp1,026 triliun. Namun, OJK tetap waspada dengan memantau tingkat risiko kredit agregat (TWP90) yang berada di level 2,26 persen.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, perlindungan konsumen menjadi prioritas utama. Melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK), OJK Kalsel telah menerima 177 pengaduan, di mana sektor fintech peer-to-peer lending menjadi yang paling banyak dikeluhkan.
Strategi OJK Kalsel di Tahun 2026
Memasuki tahun 2026, OJK Kalsel melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) telah menyiapkan lima program strategis untuk memperkuat ekonomi daerah. Program tersebut meliputi Kredit Melawan Rentenir, Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), hingga pengembangan ekosistem keuangan inklusif di pedesaan dan bank sampah.
Dengan penguatan literasi keuangan yang telah menjangkau ribuan peserta di awal tahun ini, OJK optimis stabilitas sektor jasa keuangan di Kalimantan Selatan akan terus terjaga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Diskominfo Kalsel