Minggu, 15 MARET 2026 • 04:52 WIB

Strategi Dishut Kalsel Pulihkan Lahan Kritis Lewat Pendanaan FOLU Net Sink 2030

Author

Strategi Dishut Kalsel Pulihkan Lahan Kritis Lewat Pendanaan FOLU Net Sink 2030 (mckalsel)

Solusi Cerdas Dishut Kalsel: Memulihkan Hutan di Tengah Keterbatasan Anggaran
Menghadapi tantangan keterbatasan anggaran daerah pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tidak tinggal diam. Melalui Dinas Kehutanan (Dishut) Kalsel, pemerintah daerah bergerak progresif dengan memanfaatkan peluang pendanaan internasional. Langkah ini diambil guna mempercepat pemulihan lahan kritis dan memperluas tutupan hutan melalui program ambisius Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Fatimatuzzahra, menegaskan bahwa sektor kehutanan adalah pilar strategis. Selain menjaga keseimbangan ekosistem, hutan yang sehat merupakan benteng utama dalam mengurangi risiko bencana alam. Oleh karena itu, dukungan pendanaan yang stabil dan memadai menjadi kebutuhan mutlak.

Fokus Pembangunan Kehutanan di Kalimantan Selatan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan secara konsisten memprioritaskan empat pilar utama dalam pengelolaan hutan:

  • Pemulihan lahan kritis yang sudah berlangsung intensif sejak 2016.
  • Peningkatan tutupan lahan untuk memperbaiki kualitas udara dan air.
  • Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai langkah mitigasi rutin.
  • Penguatan pengamanan kawasan guna menjaga integritas hutan dari aktivitas ilegal.

"Tujuan utamanya adalah memulihkan lahan kritis, meningkatkan tutupan lahan, serta meminimalisir karhutla," ujar Fatimatuzzahra di Banjarbaru, Jumat (13/3/2026).

Rekam Jejak Pendanaan Internasional (RBC)
Peluang pendanaan ini merupakan hasil kolaborasi panjang bersama Kementerian Kehutanan RI melalui skema Resource Based Contribution (RBC). Dana tersebut bersumber dari Pemerintah Norwegia yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).

Pada tahun 2024, Kalsel sukses mengelola dana tahap pertama sebesar Rp9 miliar untuk merehabilitasi 305 hektare lahan di wilayah KPH Tanah Laut, Hulu Sungai, dan Kayutangi. Kesuksesan ini berlanjut di tahun 2025 dengan kucuran dana tahap kedua senilai Rp11 miliar yang menyasar wilayah Tabalong, Kusan, hingga Pulau Laut.

Inovasi 2026: Rehabilitasi Mangrove dan Perlindungan Hulu
Memasuki tahun 2026, Dishut Kalsel melakukan ekspansi program. Tidak hanya berfokus pada lahan mineral, usulan pendanaan tahap berikutnya kini mencakup rehabilitasi ekosistem mangrove. Kawasan di Tanah Laut dan Kotabaru dengan luas sekitar 100 hingga 200 hektare saat ini tengah dalam proses kajian lapangan untuk memastikan tingkat keberhasilan tanam.

Selain itu, fokus khusus diberikan pada wilayah hulu yang rawan bencana banjir. Daerah Tangkapan Air (DTA) Barabai dan DTA Riam Kiwa menjadi prioritas utama rehabilitasi. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat daya serap air di hulu, sehingga risiko banjir di wilayah hilir Kalimantan Selatan dapat ditekan secara signifikan di masa depan.

Melalui sinergi pendanaan internasional dan kerja keras di lapangan, Kalimantan Selatan optimis dapat mencapai target lingkungan hidup sekaligus menjadi bagian penting dari suksesnya program nasional FOLU Net Sink 2030.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Diskominfo Kalsel

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU